Jumat, 29 Juni 2012 - 15:05:48 WIB
Taktik Mematikan Italia Melawan Jerman
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Olahraga - Dibaca: 19883 kali

Italia kembali menjadi mimpi buruk buat Jerman dengan menyingkirkan tim favorit itu di babak semifinal. Di mana kunci keberhasilan Gli Azzurri meredam Die Mannschaft, berikut analisisnya:

Cesare Prandelli kembali menggunakan formasi 4-3-1-2 pada pertandingan ini. Daniele de Rossi yang sembuh dari cedera kembali mendampingi Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio di lini tengah, sementara Riccardo Montolivo berperan menghubungkan unit bertahan Italia dengan dua striker Antonio Cassano dan Mario Balotelli.

Di kubu Jerman, Lukas Podolski dan Mario Gomez kembali menjadi starter setelah dicadangkan pada laga perempatfinal. Akan tetapi Toni Kroos malah turun menjadi starter menggantikan Thomas Muller. Terlihat di laga ini Joachim Loew menginginkan Kroos bermain untuk mengganggu kestabilan Italia di tengah, bukan untuk menjadi tumpuan serangan dari lebar lapangan.

Pertandingan ini memang ditentukan oleh cara dingin Balotelli menyelesaikan umpan – skor akhir 2-0 – tapi pertarungan sesungguhnya terjadi di lini tengah.

Struktur lini tengah Italia

Salah satu keunggulan dari lini tengah Italia adalah mereka memiliki 4 pemain tengah serba bisa yang terbiasa untuk berperan dalam membagi bola maupun dalam bertahan. Hal ini terlihat dari grafik pemain-pemain tengah Italia di bawah ini.



Terlihat Pirlo mendominasi umpan-umpan pendek di tengah lapangan. Saat Pirlo dikurung, maka ada De Rossi yang mengirimkan umpan-umpan panjang dan memperluas area permainan (stretching). Sementara itu Montolivo memberikan passing ke dalam kotak penalti, atau menyebarkan bola pada Cassano dan Balotelli.



Dari ilustrasi player influence di atas juga terlihat bagaimana tak ada satu orang pun yang benar-benar mendominasi lini tengah Italia. Bandingkan dengan lini tengah Jerman yang sangat tergatung pada Bastian Schweinsteiger.



Potongan gambar di atas menjelaskan struktur lini tengah Italia. Di depan 4 bek Italia, berdiri tiga gelandang secara sejajar (Pirlo-De Rossi-Marchisio) dengan Montolivo berada di depan untuk menghubungkan unit bertahan dengan duet striker. Tiga gelandang Italia ini menahan tiga gelandang tengah Jerman (Oezli-Khedira-Schweinsteiger). Situasi ini membuat Gomez praktis terisolasi sendirian di depan.

Kroos yang bergerak ke tengah



Di laga ini kembali Loew melakukan perubahan. Yang paling kentara adalah menurunkan Kroos sebagai starter untuk pertama kalinya. Dengan Podolski tetap berada di kiri, Kroos di atas kertas mestinya menggantikan posisi Mueller di kanan.

Tapi ini tidak terjadi. Kroos sepanjang pertandingan tidak bermain statis di kanan. Gambar area pergerakan pemain di atas menjelaskan bagaimana Kroos (no. 18) malah lebih banyak bergerak di tengah bahkan condong ke kiri, nyaris beririsan dengan area Podolski (no. 10). Kroos terlihat ditugaskan untuk mengusik kenyamanan Pirlo dalam mengatur serangan.

Ini membuat sisi kanan penyerangan Jerman lebih banyak diisi oleh Boateng yang naik ke atas dengan Oezil yang cukup sering bergerak di kanan. Ini pula yang memudahkan kinerja sisi kiri pertahanan Italia yang dijaga Chiellini. Bahkan Chiellini bisa leluasa naik jauh ke pertahanan Italia dan terlibat membuat key passes. Gol kedua Italia juga berasal dari pergerakan Montolovi dari sisi Chiellini ini.

Cassano – Montolivo, sumber kreativitas Italia

Dalam satu serangan balik, Italia memanfaatkan kondisi menumpuknya pemain di tengah lapangan ini.



Terlihat dari gambar di atas bagaimana Jerman memberikan ruang yang bagi Chiellini. Konsentrasi keempat bek Jerman pun terpecah oleh Cassano dan Balotelli yang berdiri hampir sejajar, sehingga Boateng tidak berani menutup Chiellini.

Pujian harus diberikan pada Cassano yang dengan pergerakannya melebar ke kiri lapangan mampu menarik 3 pemain Jerman sekaligus, sehingga Balotelli bebas mengintai di depan gawang Neuer. Selain itu, setelah lepas dari penjagaan Khedira, Cassano pun mampu melepaskan umpan dalam waktu yang sangat singkat sehingga Badstuber tidak mampu bereaksi dengan melompat. Pergerakan Cassano di sayap kiri sendiri sempat membuahkan 3 peluang emas untuk Italia, yaitu umpan akuratnya ke Balotelli, Montolivo, dan Marchisio.

Selain Cassano, Montolivo yang diplot sebagai pengatur serangan juga sukses menjalankan perannya sebagai pembagi serangan. Melalui umpan panjang akuratnya gol kedua Italia lahir. Lagi-lagi serangan bermula dari sisi kiri pertahanan Jerman. Montolivo yang menerima bola serangan balik, kemudian melepaskan umpan panjang ke arah Balotelli yang hanya di jaga oleh Hummels dan Badstuber. Lolos dari perangkap offside, Balotelli kemudian mampu mengalahkan Badstuber dan Hummels dalam adu sprint kemudian melesakkan tendangan keras ke gawang Neuer.



Matinya peran Oezil dan Khedira

Berbeda saat melawan Yunani. Oezil lebih sering bergerak ke kanan dan ke kiri. Tapi dengan kuatnya lini tengah Italia membuat peran Oezil tidak seleluasa saat melawan Yunani. Oezil tidak terlihat berada di posisi kiri. Ia cenderung melulu di posisi kanan dan tengah.

Sebenarnya tidak ada pengawalan khusus terhadap dua pemain Real Madrid ini. Namun, De Rossi dan Montolivo mampu mematahkan setiap aliran bola dari dua pemain tersebut. Jumlah intercept Montolivo di match ini merupakan yang tertinggi yaitu 5 intercept selama 64 menit. Sedangkan De Rossi memiliki jumlah tackle yang juga tertinggi di match ini dengan 5 tackle. Dua pemain inilah yang menjadi aktor penting matinya permainan Oezil dan Khedira.



Kita bisa lihat pada gambar di atas. Bagaimana para pemain Italia langsung mengunci setiap pergerakan para pemain Jerman. Posisi Oezil saat menguasai bola sudah dibayangi Montolivo yang berada persisi di depannya. Sedangkan Boateng yang berada di kanan Oezil sudah dibayangi oleh De Rossi. Dengan posisi seperti ini hanya ada satu pilihan ke mana Oezil harus memberikan bola, yaitu memberikan kepada Schweinsteiger yang berdiri bebas. Meskipun Reus sudah dikawal ketat Chiellini (lingkaran hitam), Schweinsteiger tetap mencoba menyodorkan umpan. Dan hasilnya bola tersebut mampu di intercept.

Matinya aliran serangan Jerman juga disebabkan peran De Rossi yang acap kali menahan dan mematikan suplai bola dari Oezil. Ini yang membuat para striker Jerman sangat minim mendapatkan suplai-suplai bola. Bahkan meskipun membuat jumlah crossing yang terbilang tinggi dengan total crossing 46, Jerman hanya mampu membuat 11 crossing sukses. Lagi-lagi hal ini disebabkan peran dua defender Italia Bonucci dan Chiellini yang sangat baik dalam memotang crossing dari dua sisi Jerman.

Strategi pergantian Pemain

Loew langsung memasukkan Marcus Reuss dan Miroslav Klose pada awal babak II menggantikan Podolski dan Gomez. Masuknya Klose terlihat membuat serangan Jerman lebih menjanjikan. Loew bahkan menggantikan Boateng dengan Mueller pada menit 71.

Situasi ini membuat Jerman hanya memilihi 3 bek natural. Dengan Lahm yang sangat aktif naik ke depan dan Boateng digantikan Mueller, Jerman seringkali hanya meninggalkan 2 pemain di belakang (Hummels dan Badstuber). Di 10 menit terakhir, Manuel Neuer bahkan sering naik ke atas dan berperan sebagai sweeper.

Masuknya Mueller membuat sisi kanan Jerman menjadi lebih aktif ketimbang sebelumnya. Dengan Lahm yang juga rajin naik ke atas, praktis kini Jerman bermain dengan kekuatan lebar lapangan. Tercatat ada 46 crossing yang dibuat Jerman sepanjang laga ini. Tapi Italia bermain dengan baik menghalau umpan-umpan yang masuk ke kotak penalti.



Dari chalkboard di atas terlihat mayoritas clearance yang dilakukan Italia terjadi di dalam kotak penalti. Sebagian terbesar di antaranya dilakukan untuk menghalau crossing-crossing yang dikirim dari lebar lapangan Jerman. Gol penalti Italia di injury time juga bermula dari crossing.

Prandelli sendiri cenderung memilih bermain aman hanya dengan mamasang satu striker yaitu Di Natale (setelah Balotelli dan Cassano ditarik ke luar). Italia cenderung main dengan pola 4-3-2-1 dengan Pirlo-Marchisio-de Rossi menjaga kedalaman dan Diamanti-Motta bermain di belakang di Di Natale. Pola ini terbukti membuat Italia cukup kokoh dalam bertahan dan efektif dalam serangan balik, terutama karena Jerman sering hanya meninggalkan Hummel-Badstuber di belakang.



Gambar di atas menjelaskan bagaimana Motta menjadi penghubung dalam transisi Italia dari bertahan dan menyerang. Terlihat juga bagaimana Jerman hanya meninggalkan Hummels dan Badstuber di belakang.

Kesimpulan

Baik Loew maupun Prandelli sama-sama sering melakukan perubahan susunan pemain. Di laga ini Prandelli terbukti lebih jitu dalam membuat perubahan susunan pemain.

Prandelli sendiri menunjukkan kematangannya sebagai pelatih. Sebagaimana saat menghadapi Spanyol di laga pertamanya, Prandelli di laga ini terlihat matang dan pintar dalam menyesuaikan diri dengan cara dan taktik lawannya.
 
Sumber:sport.detik.com (Penulis adalah analis dari Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @randyprasatya )



Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)